Minggu, 03 November 2013

Umar bin abdul aziz ketika ingin memakan ROTI dengan MADU



Umar bin abdul aziz ketika ingin memakan ROTI dengan MADU
Umar bin Abdul Aziz merupakan Khalifah yang memimpin pemerintahan Islam selepas masa Khulafatur Rasyidin berakhir. Dia masih memiliki hubungan dengan dengan Khalifah Umar bin Khattab dan mewarisi beberapa sifat dari pemimpin kedua setelah Rasulullah meninggal itu. Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok yang sangat amanah dalam menjalankan tugasnya. Dia pun bahkan tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk memenuhi kebutuhannya di luar tugas.
Suatu waktu, Umar ingin sekali makan roti dengan madu, karena sangat menyukai penganan yang berasal dari lebah itu. Dia lalu meminta kepada istrinya. Tetapi, saat itu istrinya tidak memiliki madu sama sekali karena persediaannya habis. Sang istri kemudian menyuruh pembantu untuk membeli madu. Istrinya lalu memberikan madu itu dan Umar sangat menyukainya. Tetapi, dia lantas bertanya, "Dari mana kau dapatkan madu ini?" "Aku menyuruh dua orang pembantu membeli madu itu dengan mengendarai hewan kendaraan pos yang biasa dipakai untuk mengantar surat," jawab sang istri. Mendengar perkataan itu, Umar berkata, "Aku bersumpah, mengapa kau memberiku madu dengan memanfaatkan sarana milik kaum Muslim? Kau telah membuat hewan itu lelah hanya untuk memenuhi hasratku yang menginginkan madu. " Sang istri kemudian memberikan wadah sisa madu yang belum dikonsumsi kepada Umar. Dia lalu menjual sisa madu itu dan menyerahkan uang hasil penjualan itu kepada Baitul Maal.

RASULULLAH SAW DAN SEORANG PEMUDA DIAMBANG MAUT



RASULULLAH SAW DAN SEORANG PEMUDA DIAMBANG MAUT

Rasulullah SAW mendengar kabar bahwa seorang pemuda muslim tengah menghadapi sakaratulmaut. Segera beliau menemuinya dan berdiri di sampingnya. Beliau SAW menuntun pemuda itu untuk mengucapkan, “La ilaha illallah”. Namun lidahnya kelu sehingga tak mampu mengucapkan kalimat tahlil itu. Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah pemuda ini masih memiliki ibu?” Seorang wanita yang hadir di situ menjawab, “Ya, aku ibunya.” Rasulullah SAW bertanya, “Apakah engkau ridha terhadap anakmu?” Sang ibu menjawab, “Ya, kurang lebih selama enam tahun aku tidak lagi bertegur sapa dengannya.” Rasulullah SAW kembali bertanya, “Apakah sekarang engkau telah ridha terhadap anakmu?” Sang ibu menjawab, “Allah merasa ridha atas keridhaanmu, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada pemuda itu, “Ucapkanlah, la ilaha illallah.” Pemuda itu mengucapkannya dengan lancar. Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang sedang engkau lihat?” Sang pemuda menjawab, “Saya melihat di atas kepala saya seorang lelaki hitam berwajah buruk mengenakan pakaian berbau busuk yang amat menyengat hidung sehingga membuat saya sulit bernafas dan leher saya terasa dicekik.” Rasulullah SAW bersabda, “Ucapkanlah, Wahai yang menerima yang sedikit dan memaafkan yang banyak, terimalah yang sedikit dariku, dan maafkanlah aku yang banyak, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ya man yaqbalu al-yasir wa ya’fu an al-katsir, iqbal minni al-yatsir wa’fu anni al-katsir, innaka Anta al- Ghafur al-Rahim). Sang pemuda membaca doa ini. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Sekarang apa yang engkau lihat?” Sang pemuda menjawab, “Saya melihat lelaki hitam dan berbau busuk itu telah pergi, dan seorang yang tampan berbau harum dan mengenakan pakaian nan indah datang dan berada di samping bantal saya.” Rasulullah SAW bersabda, “Ulangilah membaca doa itu (ya man yaqbal al-yasir …).” Lalu si pemuda mengulang kembali bacaan doa itu. Setelahnya, Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang sedang engkau lihat?” Sang pemuda menjawab, “Saya melihat pemuda tampan itu siap merawat saya.” Setelah mengucapkan kata-kata ini, ia pun menghembuskan nafas yang terakhir.

RASULULLAH SAW DAN NENEK TUA YANG MEMBENCINYA



   RASULULLAH SAW DAN NENEK TUA YANG MEMBENCINYA

Suatu ketika Rasulullah SAW berjalan di Kota Makkah. Beliau melihat seorang wanita tua menunggu seseorang yang bisa dimintai tolong membawakan barangnya. Benar saja, begitu Rasulullah lewat di depannya, ia memanggil, “Ya ahlal Arab! Tolong bawakan barang ini, nanti akan kubayar.” Rasulullah SAW sengaja lewat di hadapan nenek itu karena bermaksud hendak menolongnya. Maka, ketika Rasulullah menghampirinya, beliau segera mengangkat barang-barang itu seraya berkata, “Aku akan mengangkatkan barangmu tanpa bayaran.” Nenek tua itu amat senang mendengar perkataan tersebut karena selama ini amat jarang orang membantunya tanpa pamrih. Biasanya, walaupun tidak meminta, tetapi jika dia memberi bayaran, orang dengan senang hati akan menerimanya. Dia pandangi wajah Muhammad yang bersih dan teduh. Dia yakin anak muda yang menolongnya kini adalah seorang pemuda yang berbudi luhur. Di tengah perjalanan wanita itu menasihati Rasul. “Kabarnya di Kota Makkah ini ada seorang yang mengaku nabi, namanya Muhammad. Hati-hatilah engkau dengan orang itu. Jangan sampai engkau teperdaya dan memercayainya.” Nenek tua itu sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang menolongnya dan kini bersamanya adalah Muhammad, sang nabi. Maka, Rasul SAW berkata kepadanya, “Aku ini Muhammad…” Nenek tua itu terperangah mengetahui pemuda yang menolongnya adalah Muhammad yang diceritakannya. Maka, pada saat itu juga nenek itu langsung meminta maaf dan bersyahadat. Ia pun kemudian memuji akhlak Rasul. “Sungguh engkau memiliki akhlak yang luhur.”

Kisah Nabi Muhammad SAW Semasa Kecil



Kisah Nabi Muhammad SAW Semasa Kecil
Sebuah tangis bayi yang baru lahir terdengar dari sebuah rumah di kampung Bani Hasyim di Makkah pada 12 Rabi’ul Awwal 571 M. Bayi itu lahir dari r ahim Aminah dan langsung dibopong seorang “bidan” yang bernama Syifa’, ibunda sahabat Abdurrahman bin Auf “Bayimu laki-laki!” Aminah tersenyum lega. Tetapi seketika ia teringat kepada mendiang suaminya, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang telah meninggal enam bulan sebelumnya. Ya, bayi yang kemudian oleh kakeknya diberi nama Muhammad (Yang Terpuji) itu lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal di Yatsrib ketika beliau berusia tiga bulan dalam kandungan ibundanya. Kelahiran yang yatim ini dituturkan dalam Al-Quran, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” — QS Adh-Dhuha (93): 6.
Aminah, janda beranak satu itu, hidup miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak, Barakah Al-Habsyiyah (Ummu Aiman). Sementara sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab waktu itu, bayi yang dilahirkan disusukan kepada wanita lain. Khususnya kepada wanita dusun, supaya hidup di alam yang segar dan mempelajari bahasa Arab yang baku. Ada hadits yang mengatakan, kebakuan bahasa warga Arab yang dusun lebih terjaga. Menunggu jasa wanita yang menyusui, Aminah menyusui sendiri Muhammad kecil selama tiga hari. Lalu dilanjutkan oleh Tsuwaibah, budak Abu Lahab, paman Nabi Muhammad, yang langsung dimerdekakan karena menyampaikan kabar gembira atas kelahiran Nabi, sebagai ungkapan rasa senang Abu Lahab. Air Susu yang Melimpah Beberapa hari kemudian, datanglah kafilah dari dusun Bani Sa’ad, dusun yang jauh dari kota Makkah. Mereka menaiki unta dan keledai. Di antara mereka ada sepasang suami-istri, Harits bin Abdul Uzza dan Halimah As-Sa’diyah. Harits menaiki unta betina tua renta dan Halimah menaiki keledai yang kurus kering. Keduanya sudah memacu kendaraannya melaju, tetapi tetap saja tertinggal dari teman-temannya. Halimah dan wanita lainnya yang datang ke Makkah sedang mencari kerja memberi jasa menyusui bayi bangsawan Arab yang kaya. Sebagaimana dalam kehidupan modern, baby sitter akan mendapatkan bayaran yang tinggi bila dapat mengasuh bayi dari keluarga kaya. Sampai di kota Makkah, Halimah menjadi cemas, sebab beberapa wanita Bani Sa’ad yang tiba lebih dulu sedang ancang-ancang mudik karena sudah berhasil membawa bayi asuh mereka.  
Setelah ia ke sana-kemari, akhirnya ada juga seorang ibu, yaitu Aminah, yang menawarkan bayinya untuk disusui. Namun ketika mengetahui keadaan ibu muda yang miskin itu, Halimah langsung menampik. Dia dan suaminya berkeliling kota Makkah, tetapi tidak ada satu pun ibu yang menyerahkan bayinya kepadanya untuk disusui. Ya, bagaimana mereka percaya, seorang ibu kurus yang naik keledai kurus pula akan mengasuh dengan baik bayi mereka? Hampir saja Halimah putus asa, ditambah lagi suaminya sudah mengajaknya pulang meski tidak membawa bayi asuh. Namun, ia berkata kepada suaminya, “Aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Alangkah baiknya kalau kita mau mengambil anak yatim itu sambil berniat menolong.”Baiklah, kita bawa saja anak yatim itu, semoga Allah memberkahi kehidupan kita,” ujar suaminya. Setelah ada kesepakatan tentang harga upah menyusui , Muhammad kecil diberikan kepada Halimah. Wanita kurus kering itu pun mencoba memberikan puting susunya kepada bayi mungil tersebut. Subhanallah! Kantung susunya membesar, dan kemudian air susu mengalir deras, sehingga sang bayi mengisapnya hingga kenyang. Dia heran, selama ini susunya sendiri sering kurang untuk diberikan kepada bayi kandungnya sendiri, tetapi sekarang kok justru berlimpah, sehingga cukup untuk diberikan kepada bayi kandung dan bayi asuhnya? Berbarengan dengan keanehan yang dialami Halimah, suaminya juga dibuat heran, tak habis pikir, mengapa unta betina tua renta itu pun tiba-tiba kantung susunya membesar, penuh air susu. Halimah turun dari. keledainya, dan terus memerah susu itu. Dia dan suaminya sudah dalam keadaan lapar dan dahaga. Mereka meminumnya sehingga kenyang dan puas. Semua keajaiban itu membuat mereka yakin, “Anak yatim ini benar-benar membawa berkah yang tak terduga.” Halimah menaiki dan memacu keledainya. Ajaib! Keledai itu berhasil menyalip kendaraan temannya yang mudik lebih dulu. “Halimah! Halimah! Alangkah gesit keledaimu. Bagaimana ia mampu melewati gurun pasir dengan cepat sekali, sedangkan waktu berangkat ke Makkah ia amat lamban,” temannya berseru. Halimah sendiri bingung, dan tidak bisa memberikan jawaban kepada teman-temannya. Sampai di rumah pun, anak-anaknya senang, sebab orangtua mereka pulang lebih awal dari orang sekampungnya. Apalagi kemudian ayah mereka membawa air susu cukup banyak, yang tiada lain air susu unta tua renta yang kurus kering itu. Dalam sekejap, kehidupan rumah tangga Halimah berubah total. Dan itu menjadi buah bibir di kampungnya. Mereka melihat, keluarga yang tadinya miskin tersebut hidup penuh kedamaian, kegembiraan, dan serba kecukupan. Domba-domba yang mereka pelihara menjadi gemuk dan semakin banyak air susunya, walaupun rumput di daerah mereka tetap gersang. Keajaiban lagi! Peternakan domba milik Halimah berkembang pesat, sementara domba-domba milik tetangga mereka tetap saja kurus kering. Padahal rumput yang dimakan sama. Karena itulah, mereka menyuruh anak-anak menggembalakan domba-domba mereka di dekat domba-domba milik Halimah. Namun hasilnya tetap saja sama, domba para tetangga itu tetap kurus kering. Pembelahan Dada Muhammad kecil disusui Halimah sekitar dua tahun. Oleh Halimah, bayi itu dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Namun ibunya mengharapkan agar Muhammad tetap ikut dirinya, sebab ia khawatir bayi yang sehat dan montok tersebut menjadi terganggu kesehatannya jika hidup di Makkah, yang kering dan kotor. Maka Muhammad kecil pun dibawa kembali oleh Halimah ke dusun Bani Sa’ad. Bayi itu menjadi balita, dan telah mampu mengikuti saudara-saudaranya menggembala domba. Ingat, hampir semua nabi pernah menjadi penggembala. Muhammad saat itu sudah berusia empat tahun dan dapat berlari-lari lepas di padang rumput gurun pasir. la, bersama Abdullah, anak kandung Halimah, menggembala domba-domba mereka agak jauh dari rumah. Di siang hari yang terik itu, tiba-tiba datanglah dua orang lelaki berpakaian putih. Mereka membawa Muhammad, yang sedang sendirian, ke tempat yang agak jauh dari tempat penggembalaan. Abdullah pada waktu itu sedang pulang, mengambil bekal untuk dimakan bersama-sama dengan Muhammad, di tempat menggembala, karena mereka lupa membawa bekal. Ketika Abdullah kembali, Muhammad sudah tidak ada. Seketika itu juga ia menangis dan berteriak-teriak minta tolong sambil berlari pulang ke rumahnya. Halimah dan suaminya pun segera keluar dari rumahnya. Dengan tergopoh-gopoh mereka mencari Muhammad kesana-kemari. Beberapa saat kemudian, mereka mendapatinya sedang duduk termenung seorang diri di pinggir dusun tersebut. Halimah langsung bertanya kepada Muhammad, “Mengapa engkau sampai berada di sini seorang diri?” Muhammad pun bercerita. “Mula-mula ada dua orang lelaki berpakaian serba putih datang mendekatiku. Salah seorang berkata kepada kawannya, ‘Inilah anaknya.’ Kawannya menyahut, `Ya, inilah dia!’ Sesudah itu, mereka membawaku ke sini. Di sini aku dibaringkan, dan salah seorang di antara mereka memegang tubuhku dengan kuatnya. Dadaku dibedahnya dengan pisau. Setelah itu, mereka mengambil suatu benda hitam dari dalam dadaku dan benda itu lalu dibuang. Aku tidak tahu apakah benda itu dan ke mana mereka membuangnya. Setelah selesai, mereka pergi dengan segera. Aku pun tidak mengetahui ke mana mereka pergi, dan aku ditinggalkan di sini seorang diri.” Setelah kejadian itu, timbul kecemasan pada diri Halimah dan suaminya, kalau-kalau terjadi sesuatu terhadap si kecil Muhammad. Karena itulah, keduanya menyerahkan dia kembali kepada Ibunda Aminah

BERSAMBUNG...

ALKISAH NABIYULLAH SAM’UN GHOZI AS



ALKISAH NABIYULLAH SAM’UN GHOZI AS
Dari Sahabat Rasulullah saw bahwa Nabi saw berkumpul bersama para sahabat di Bulan Suci Ramadhan. Kemudian Nabi saw bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Ghozi as. nabiyullah sam'un AS adalah Nabi yang diutus di tanah Romawi. Nabiyullah Sam’un Ghozi as memiliki kemukjizatan dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana kaisar. Nabiyullah Sam’un Ghozi as berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Karena ketangguhan dan keluarbiasaannya akhirnya sang kaisar mencari jalan untuk menundukkan nabiyullah Sam’un Ghozi as. Berbagai upaya dilakukan sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkan : barang siapa yang dapat menangkap nabiyullah sam'un AS akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.
Singkatnya istri nabiyullah sam'un AS yang khianat tertarik mengikuti sayembara itu. Lalu istrinya merayu samun untuk menceritakan tentang kesaktiannya tersebut kepadanya, awalnya nabiyullah sam'un AS tidak ingin memberitahunya, namun Nabiyullah Sam’un Ghozi terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya dan cintanya kepada isterinya Akhirnya Nabiyullah Sam’un Ghozi berkata kepada isterinya “Jika kau ingin mendapatkanku dan menangkapku maka ikatlah aku dengan rambutku ini maka aku tidak akan berdaya lagi. Lalu suatu ketika nabiyullah sam'un AS tertidur pulas, secara diam-diam istrinya memotong rambut nabiyullah sam'un AS kemudian mengikat tangan kaki dan tubuhnya,Akhirnya Nabiyullah Sam’um Ghozi as ini pun ditangkap dan di berikan dihadapan kaisar. Kemudian beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan dipotong tangan serta kakinya diikat serta dipertontonkan diistana kaisar. Karena perlakukan yang demikian hebatnya,malaikat yang menyaksikan hamba allah disiksa begitu sadis menjerit menangis, kemudian para malaikat memohon kepada allah agar ditolongnya nabiyullah sam'un AS dari siksaan tersebut, Allah dengan kuasa lalu mengabulkan setiap doa dari sam'un. Datanglah malaikat kepada sam'un memberikan kabar gembira tersebut. dimulai dengan bertaubat nabi sam'un kemudian memohon atas kebesaraaNya. disembuhkan kembali penglihatannya,dan kaki serta tangannya, lalu allah mengabulkannya. Lalu nabiyullah sam'un AS meminta kesaktian yang lebih besar dari sebelumnya, lalu allah mengabulkannya, maka dengan izin allah istana kaisar bersama seluruh masyarakatnya hancur berserta isteri dan para kerabat yang menghianatinya. Kemudian nabiyullah bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua keanggaramurkaan yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas inayah dan Hidayah dari Allah SWT. Ketika Nabi selesai menceritakan cerita nabiyullah sam'un AS yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata : Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah sam'un AS. Kemudian Nabi saw, diam sejenak. Kemudian Malaikat Jibril as datang dan mewahyukan kepada beliau pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan. Mendengar hal itu para sahabat menjadi senang. Yaitu malam lailatul qadar.
Pada kitab Qishashul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rasullah Muhammad SAW tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, "Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Sam'un."