Selasa, 15 Oktober 2013

KESERDAHANAAN KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ

KESERDAHANAAN KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ
Kesederhanaan Istri Umar bin Abdul Aziz Fatimah sangat terkejut ketika mendengar berita bahwa telah diangkat khalifah baru, Umar bin Abdul Azis yang tak lain adalah suaminya sendiri. Namun ia lebih terkejut ketika tahu kalau Sang Raja baru dikabarkan menolak segala fasilitas istana. Umar bin Abdul Aziz memilih menunggang keledai untuk kendaraan sehari-hari, membatalkan acara pelantikan dirinya sebagai khalifah yang akan diadakan besar-besaran dan penuh kemewahan. Sungguh Fatimah heran dan tidak percaya mendengar berita tersebut karena ia sangat mengenal siapa suaminya. Sosok yang sangat identik dengan kemewahan hidup mengapa secara tiba-tiba ia hendak berpaling dari kemewahan, padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja di anugerahkan kepadanya? Keterkejutannya semakin bertambah tatkala melihat suaminya pulang dari dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah umat islam. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandungkan tiga hari yang lalu tatkala ia berangkat ke kota Damaskus. Wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetaran dan layu karena menanggung beban yang teramat berat.
Dengan suara lirih Umar bin Abdul Aziz berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang kepada sang isteri tercinta, “Fatimah, isteriku...! Bukankah engkau telah tahu apa yang menimpaku? Beban yang teramat dipikulkan kepundakku, menjadi nakhoda bahtera yang dipenuhi, ditumpangi oleh umat Muhammad SAW. Tugas ini benar-benar menyita waktuku hingga hakku terhadapmu akan terabaikan. Aku khawatir kelak engkau akan meninggalkanku apabila aku akan menjalani hidupku yang baru, padahal aku tidak ingin berpisah denganmu hingga ajal menjemputku.” “Lalu, apa yang akan engkau lakukan sekarang?” tanya Fatimah. “Fatimah...! engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada ditangan kita berasal dari umat Islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sedikit pun kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai, disebidang tanah itu kelak akan kita bangun tempat berteduh kita dan aku hidup dari sebidang tanah tersebut. Maka jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana perjalanan hidupku yang akan penuh kekurangan dan penderitaan maka berterus- teranglah, dan sebaiknya engkau kembali ke orang tuamu!” jawab Umar bin Abdul Aziz. Fatimah kembali bertanya,”Ya suamiku...apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?” “Aku memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang tidak ternilai dengan apapun juga yakni surga, surga adalah impian terakhirku,” jawab Umar bin Abdul Aziz lagi. Aneh. Fatimah yang notabene merupakan wanita yang terbiasa hidup mewah, dengan fasilitas yang disediakan dan pelayanan yang super maksimal, tidak kecewa mendengar keputusan suaminya ia. Ia tidak menunjukan kekesalan dan keputusasaan. Justeru dengan suara yang tegar, mantap ia menegaskan, “Suamiku...! Lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku akan setia disisimu baik dikala susah atau senang hingga maut memisahkan kita.” Fatimah merupakan satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara putra khalifah daulah Abbasyiah yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Layaknya putri raja, fatimah pun mendapatkan kehormatan dan segala fasilitas yang mewah, hidup dengan penuh kasih sayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya dan saudara- saudaranya. Kebahagiannya menjadi sempurna dengan dipersunting oleh seorang lelaki yang terbaik pada zamannya, dari keluarga yang terhormat yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang hidup penuh dengan keglamoran dan kemewahan meskipun demikian ia merupakan sosok yang relegius dan sangat amanah. Fatimah yang agung itu menjadi pendukung pertama gerakan perubahan yang akan dilakukan oleh suaminya yakni gerakan kesederhanan para pemimpin dalam kehidupan, demi bakti dan keridaan sang suami yang tercinta. Ia rela meninggalkan kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya, semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan atas pondasi keimanan yang kuat. Di rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Pakaian yang dikenakan, makanan yang disantap tanpa ada kemewahan dan kelezatan semuanya tidak jauh dengan rakyat biasa padahal status yang mereka sandang adalah raja dan ratu seluruh umat Islam masa itu. Begitu sederhananya konsep kehidupan yang mereka terapkan, orang yang belum mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa umat islam kala itu. Diceritakan, suatu hari datanglah wanita Mesir untuk menemui khalifah di rumahnya. Sesampai di rumah yang ditunjukkan, ia melihat seorang wanita yang cantik dengan pakaian yang sederhana sedang memperhatikan seseorang yang sedang memperbaiki pagar rumah yang dalam kondisi rusak. Setelah berkenalan si wanita Mesir baru sadar bahwa wanita tersebut adalah Fatimah, isteri sang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Tamu itu pun menanyakan sesuatu hal, “Ya Sayyidati..., mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki pagar rumah engkau?” Seraya tersenyum Fatimah menjawab, “Dia adalah amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz yang sedang engkau cari
subhanallah...


Pertempuran khaibah dan strategi ali bin abi thalib memimpin perang



Pertempuran khaibah dan strategi ali bin abi thalib memimpin perang
Pertempuran Khaibar merupakan salah satu pertempuran yang paling sengit terjadi sepanjang sejarah penyebaran Islam. Dalam pertempuran ini, Umat Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW menghadapi musuh sangat kuat yaitu Yahudi dari Bani Nadhir. Kelompok Yahudi kala itu berlindung di benteng yang terletak di Khaibar, 150 KM dari kota Madinah.
Khaibar merupakan dataran subur karena terkenal sebagai sumber mata air di tengah gurun pasir. Benteng ini dibangun dengan sistem pertahanan yang berlapis-lapis. Hal itu membuat setiap lawan akan kewalahan untuk menggempur perlindungan yang dibuat kelompok Yahudi itu. Bahkan, pasukan Romawi yang terkenal kuat pun tak sanggup meruntuhkan benteng Khaibar. Hal serupa juga dialami Umat Islam. Rasulullah bahkan sampai mengganti komandan pasukan sebanyak tiga kali karena susahnya menembus sistem pertahanan benteng Khaibar. Komandan pertama yang ditunjuk oleh Rasulullah adalah Abu Bakar As Shiddik.
Abu Bakar kemudian mencoba langsung melakukan penggempuran, tetapi gagal. Sehingga Rasulullah harus mengganti Abu Bakar dengan Umar bin Khattab. Harapan sempat tertambat pada Umar. Tetapi, lagi- lagi kegagalan yang diraih. Umar tidak sanggup mendobrak pertahanan kelompok Yahudi. Akhirnya, Rasulullah menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk memimpin pasukan.
Di tangan Ali lah ternyata benteng yang berlapis-lapis itu dapat dikuasai. Strategi yang dipakai Ali adalah semaksimal mungkin menyerang benteng pada bagian gerbang. Dia tidak mau mengambil resiko untuk menggempur keliling benteng, karena ancaman yang dihadapi sangat jelas. Strategi itu pun berhasil. Ali menguasai pintu gerbang dan menjadikannya sebagai tameng untuk maju. Ali beserta pasukannya pun mencoba untuk terus maju menembus lapis demi lapis benteng Khaibar. Semua benteng dapat dikuasai Ali, tetapi hanya satu lapis yang belum ditaklukkan, yakni Benteng Zubair. Di benteng inilah para pasukan Yahudi berlindung dan mengadakan perlawanan secara besar-besaran hingga membuat pasukan Muslim kewalahan. Keputusan kemudian diambil. yaitu mengepung benteng Zubair. Berkali-kali kelompok Yahudi diminta untuk berperang secara terbuka oleh Umat Islam, mereka tetap saja memilih bertahan. Menghadapi situasi seperti itu, akhirnya tentara Umat Islam menghambat saluran air yang menuju ke dalam benteng. Cara itu ternyata terbukti efektif untuk memaksa kelompok Yahudi keluar benteng dan berperang secara terbuka. Peperangan pun terjadi dan kelompok Yahudi pun kalah. Mereka kemudian menyerahkan sepenuhnya Benteng Khaibar kepada Umat Islam.

Pertempuran khaibah dan strategi ali bin abi thalib memimpin perang



Pertempuran khaibah dan strategi ali bin abi thalib memimpin perang
Pertempuran Khaibar merupakan salah satu pertempuran yang paling sengit terjadi sepanjang sejarah penyebaran Islam. Dalam pertempuran ini, Umat Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW menghadapi musuh sangat kuat yaitu Yahudi dari Bani Nadhir. Kelompok Yahudi kala itu berlindung di benteng yang terletak di Khaibar, 150 KM dari kota Madinah.
Khaibar merupakan dataran subur karena terkenal sebagai sumber mata air di tengah gurun pasir. Benteng ini dibangun dengan sistem pertahanan yang berlapis-lapis. Hal itu membuat setiap lawan akan kewalahan untuk menggempur perlindungan yang dibuat kelompok Yahudi itu. Bahkan, pasukan Romawi yang terkenal kuat pun tak sanggup meruntuhkan benteng Khaibar. Hal serupa juga dialami Umat Islam. Rasulullah bahkan sampai mengganti komandan pasukan sebanyak tiga kali karena susahnya menembus sistem pertahanan benteng Khaibar. Komandan pertama yang ditunjuk oleh Rasulullah adalah Abu Bakar As Shiddik.
Abu Bakar kemudian mencoba langsung melakukan penggempuran, tetapi gagal. Sehingga Rasulullah harus mengganti Abu Bakar dengan Umar bin Khattab. Harapan sempat tertambat pada Umar. Tetapi, lagi- lagi kegagalan yang diraih. Umar tidak sanggup mendobrak pertahanan kelompok Yahudi. Akhirnya, Rasulullah menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk memimpin pasukan.
Di tangan Ali lah ternyata benteng yang berlapis-lapis itu dapat dikuasai. Strategi yang dipakai Ali adalah semaksimal mungkin menyerang benteng pada bagian gerbang. Dia tidak mau mengambil resiko untuk menggempur keliling benteng, karena ancaman yang dihadapi sangat jelas. Strategi itu pun berhasil. Ali menguasai pintu gerbang dan menjadikannya sebagai tameng untuk maju. Ali beserta pasukannya pun mencoba untuk terus maju menembus lapis demi lapis benteng Khaibar. Semua benteng dapat dikuasai Ali, tetapi hanya satu lapis yang belum ditaklukkan, yakni Benteng Zubair. Di benteng inilah para pasukan Yahudi berlindung dan mengadakan perlawanan secara besar-besaran hingga membuat pasukan Muslim kewalahan. Keputusan kemudian diambil. yaitu mengepung benteng Zubair. Berkali-kali kelompok Yahudi diminta untuk berperang secara terbuka oleh Umat Islam, mereka tetap saja memilih bertahan. Menghadapi situasi seperti itu, akhirnya tentara Umat Islam menghambat saluran air yang menuju ke dalam benteng. Cara itu ternyata terbukti efektif untuk memaksa kelompok Yahudi keluar benteng dan berperang secara terbuka. Peperangan pun terjadi dan kelompok Yahudi pun kalah. Mereka kemudian menyerahkan sepenuhnya Benteng Khaibar kepada Umat Islam.

Senin, 14 Oktober 2013

TAWANAN KHALIFAH ABU HURAIRAH YANG BERDUSTA



TAWANAN KHALIFAH ABU HURAIRAH  YANG BERDUSTA
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan kepadaku menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Ternyata ada seseorang datang dan mengambil sebagian makanan, lalu saya menangkapnya. Saya berkata kepadanya, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia berkata, ‘Sungguh, saya orang yang membutuhkan. Saya mempunyai keluarga dan saya mempunyai kebutuhan yang mendesak.’ Lantas saya melepasnya. Pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya dan keluarganya, maka saya kasihan padanya dan saya melepasnya.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah! Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.’ Saya yakin bahwa dia akan kembali lagi berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makanya, saya mengintainya. Ternyata dia datang dan mengambil sebagian makanan, lantas saya berkata kepadanya, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia berkata, ‘Biarkanlah aku. Sungguh, saya orang yang membutuhkan. Saya mempunyai keluarga. Saya tidak akan mengulangi lagi.’ Saya pun iba kepadanya. Lantas saya melepasnya. Di pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, Wahai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya dan keluarganya, maka saya iba kepadanya dan saya melepasnya.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.’ Saya pun mengintainya untuk kali ketiga. Ternyata dia datang dan mengambil sebagian makanan, lalu saya menangkapnya dan saya berkata, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini yang terakhir –sebanyak tiga kali- kamu telah mengatakan bahwa kamu tidak akan mengulangi lagi, ternyata kamu mengulangi lagi.’ Lalu dia berkata, ‘Biarkanlah aku. Sungguh, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadamu berkat kalimat-kalimat tersebut.’ Saya bertanya, ‘Apa kalimat-kalimat tersebut?’ Dia berkata, ‘Apabila kamu telah berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi, niscaya engkau senantiasa mendapat perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.’ Selanjutnya saya melepasnya. Pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku. ‘Apa yang telah dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Dia mengatakan bahwa dia akan mengajariku beberapa kalimat yang bermanfaat bagiku, lantas saya melepaskannya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa kalimat-kalimat itu?’ Saya menjawab, ‘Dia berkata kepadaku, ‘Apabila kamu telah berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi dari awal sampai akhir.’ Dia menambahkan, ‘Niscaya engkau senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. Setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ketahuilah! Sungguh, dia berkata benar kepadamu padahal dia pendusta. Tahukah kamu siapa yang engkau ajak bicara semenjak tiga hari yang lalu, wahai Abu Hurairah?’ Aku menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Dia adalah setan’.” (HR. Al-Bukhari).

TAWANAN KHALIFAH ABU HURAIRAH YANG BERDUSTA



TAWANAN KHALIFAH ABU HURAIRAH  YANG BERDUSTA
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan kepadaku menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Ternyata ada seseorang datang dan mengambil sebagian makanan, lalu saya menangkapnya. Saya berkata kepadanya, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia berkata, ‘Sungguh, saya orang yang membutuhkan. Saya mempunyai keluarga dan saya mempunyai kebutuhan yang mendesak.’ Lantas saya melepasnya. Pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya dan keluarganya, maka saya kasihan padanya dan saya melepasnya.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah! Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.’ Saya yakin bahwa dia akan kembali lagi berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makanya, saya mengintainya. Ternyata dia datang dan mengambil sebagian makanan, lantas saya berkata kepadanya, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia berkata, ‘Biarkanlah aku. Sungguh, saya orang yang membutuhkan. Saya mempunyai keluarga. Saya tidak akan mengulangi lagi.’ Saya pun iba kepadanya. Lantas saya melepasnya. Di pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, Wahai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya dan keluarganya, maka saya iba kepadanya dan saya melepasnya.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.’ Saya pun mengintainya untuk kali ketiga. Ternyata dia datang dan mengambil sebagian makanan, lalu saya menangkapnya dan saya berkata, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini yang terakhir –sebanyak tiga kali- kamu telah mengatakan bahwa kamu tidak akan mengulangi lagi, ternyata kamu mengulangi lagi.’ Lalu dia berkata, ‘Biarkanlah aku. Sungguh, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadamu berkat kalimat-kalimat tersebut.’ Saya bertanya, ‘Apa kalimat-kalimat tersebut?’ Dia berkata, ‘Apabila kamu telah berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi, niscaya engkau senantiasa mendapat perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.’ Selanjutnya saya melepasnya. Pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku. ‘Apa yang telah dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Dia mengatakan bahwa dia akan mengajariku beberapa kalimat yang bermanfaat bagiku, lantas saya melepaskannya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa kalimat-kalimat itu?’ Saya menjawab, ‘Dia berkata kepadaku, ‘Apabila kamu telah berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi dari awal sampai akhir.’ Dia menambahkan, ‘Niscaya engkau senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. Setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ketahuilah! Sungguh, dia berkata benar kepadamu padahal dia pendusta. Tahukah kamu siapa yang engkau ajak bicara semenjak tiga hari yang lalu, wahai Abu Hurairah?’ Aku menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Dia adalah setan’.” (HR. Al-Bukhari).