Khalifah umar menghadapi pembesar syam yang angkuh lagi sombong.
Khalifah Umar
bin Khattab pernah didatangi seorang pembesar Syam yang telah memeluk Islam,
Jablah bin Ayham Al Ghossaani. Saat itu, Jablah hendak menunaikan haji ke
Mekkah. Akhirnya, Umar pun turut menjalankan ibadah haji bersama Jablah. Dia
bergabung dengan rombongan Jablah menuju Mekkah. Saat di Mekkah, Jablah
kemudian melakukan thawaf. Saat menjalankan thawaf, tanpa sadar kain ihram yang
dia kenakan terinjak secara tidak sengaja oleh seorang laki-laki dari Bani
Fazaroh, yang kebetulan juga sedang melaksanakan thawaf. Hal itu sontak membuat
Jablah marah. Dia lalu memukul hidung laki-laki itu hingga berdarah. Si
laki-laki itu tidak terima dengan perlakuan Jablah dan mengadu kepada Umar.
Mendapat
pengaduan itu, Umar kemudian menyuruh petugas untuk menghadirkan Jablah. Jablah
kemudian menghadap Umar. Saat berada di hadapannya, Umar kemudian bertanya
kepada Jablah, "Apakah benar kau telah memukul
seorang laki-laki dari Bani Fazaroh ketika sedang thawaf?" Jablah
menjawab pertanyaan Umar dengan sangat angkuh. "Benar,
Saya memang telah memukul hidung laki-laki itu, karena dia telah menginjak kain
ihram saya hingga terlepas dari tubuh saya. Seandainya saja bukan karena
kemuliaan Ka'bah, sudah saya tebas lehernya," kata dia. "Baiklah, karena kau telah melakukan perbuatan yang
menyakiti orang lain, maka sebaiknya kau minta maaf, jika tidak mau, maka saya
akan suruh dia menuntut balas kepadamu," ucap Umar. Hal itu membuat
Jablah terkejut. "Apa yang kau lakukan kepada
saya, hai Amirul Mukminin? Kau sendiri tahu, aku ini adalah seorang pembesar
Syam dan dia hanyalah rakyat jelata," tanya Jablah. Umar pun
menjawab perkataan Jablah dengan tegas. "Ketahuilah,
hai Jablah, sesungguhnya Islam telah mempersatukan kau seorang pembesar suatu
kaum dengan lelaki yang hanya rakyat jelata. Sebenarnya antara kamu dengan dia
tidak ada keistimewaan apa-apa, kecuali keimanan dan ketakwaan,"
kata Umar. Jablah pun menananggapi pernyataan Umar dengan perkataan yang sangat
tidak menyenangkan. "Saya kira, saya akan lebih
mulia dan dihormati setelah saya memeluk Islam. Tetapi, kenyataannya saya malah
lebih diabaikan dari sebelumnya," kata Jablah. "Sudahlah, kalau kau tetap berkeras tidak mau minta
maaf, maka saya suruh dia menuntut balas kepadamu," ujar Umar
dengan tegas. Tetapi, perkataan itu tidak membuat Jablah mau meminta maaf. Dia
kemudian mengancam, "Jika Amirul Mukminin tetap
memaksa saya untuk meminta maaf, maka saya akan pindah agama kepada agama
Nasrani." Ancaman itu tidak membuat Umar gentar. Bahkan, Umar balik
mengancam Jablah, "Kalau kau berpindah agama
Nasrani, maka dengan sangat terpaksa sekali saya akan menebas batang lehermu
karena sebelumnya kau telah berikrar dengan suka hati untuk masuk ke dalam
agama Islam, maka saya akan memerangimu." Melihat ketegasan Umar,
Jablah kemudian merasa takut. "Baiklah, akan saya
pikirkan terlebih dahulu hal ini secara matang malam ini," kata
Jablah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar